CALL FOR PAPER 2ND ANNUAL CONFERENCE OF APPTIS 2026 HADIRKAN BERAGAM INOVASI PERPUSTAKAAN DAN KECERDASAN BUATAN

Surakarta, 24 Juni 2026 – Sesi Call for Paper pada 2nd Annual Conference of APPTIS 2026 berlangsung meriah dan produktif di UIN Raden Mas Said Surakarta melalui dua ruang paralel, yaitu Ruang A dan Ruang B. Kegiatan ini menjadi wadah bagi para pustakawan dari berbagai perguruan tinggi untuk berbagi hasil penelitian, gagasan, serta inovasi dalam pengembangan perpustakaan di era transformasi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).

Kegiatan Call for Paper ini menghadirkan 14 paper yang dipresentasikan dalam dua ruang paralel. Ruang A menampilkan 7 paper dengan total 28 presenter, sedangkan Ruang B menghadirkan 7 paper yang dipresentasikan oleh 16 presenter. Secara keseluruhan, terdapat 44 presenter yang berpartisipasi dalam sesi Call for Paper 2nd Annual Conference of APPTIS 2026. Para presenter merupakan pustakawan, akademisi, dan praktisi informasi dari berbagai perguruan tinggi dan lembaga informasi di Indonesia yang berbagi hasil penelitian, pengalaman, serta inovasi untuk mendukung pengembangan perpustakaan di era transformasi digital dan kecerdasan buatan.

Pada Ruang A, berbagai topik strategis dipresentasikan dengan fokus pada pengembangan literasi, transformasi perpustakaan, dan kompetensi pustakawan. Sesi dibuka oleh Iswadi Syahrial Nupin bersama tim yang memaparkan penelitian mengenai peran Forum Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumatera Barat dalam kegiatan psikososial bagi anak korban bencana banjir bandang di Kabupaten Agam. Penelitian ini menunjukkan bahwa literasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana pendidikan, tetapi juga sebagai media pemulihan psikososial bagi masyarakat terdampak bencana.

Selanjutnya, Ajrun Azhim Al-As’hal bersama tim mempresentasikan konsep rekonseptualisasi smart library melalui implementasi website perpustakaan berbasis kecerdasan buatan. Kajian tersebut menyoroti tantangan sekaligus peluang pengembangan perpustakaan masa depan yang lebih adaptif terhadap kebutuhan pengguna.

Topik mengenai komunikasi antargenerasi dalam lingkungan perpustakaan perguruan tinggi dibahas oleh Triningsih dan tim melalui pengembangan model “Intergenerational Communication Framework for Librarians” menggunakan pendekatan Constructivist Grounded Theory. Sementara itu, Yolan Fernando bersama tim mengangkat isu transformasi paradigma kompetensi pustakawan dan resiliensi perpustakaan kontemporer di tengah banjir informasi dan disrupsi teknologi kecerdasan buatan.

Ruang A juga menghadirkan presentasi Rohai Inah Indrakasih yang membahas pentingnya ilmu digital forensik dalam navigasi dan pembacaan informasi dokumen paten sebagai salah satu kompetensi baru pustakawan. Selain itu, Beni Adri Yassin bersama tim memaparkan pentingnya monitoring dan evaluasi berbasis data dalam tata kelola perpustakaan perguruan tinggi melalui studi kasus di Perpustakaan Universitas Andalas. Sesi ditutup oleh Nasrul Makdis dan tim yang mengkaji pemanfaatan aplikasi hadis digital sebagai sumber informasi di Perpustakaan UIN Imam Bonjol Padang.

Sementara itu, Ruang B didominasi oleh pembahasan mengenai penerapan kecerdasan buatan, kualitas layanan perpustakaan, literasi informasi, dan dukungan riset akademik. Hary Supriyanto mempresentasikan strategi pengembangan koleksi perpustakaan menggunakan Artificial Intelligence sebagai pendekatan baru dalam pengelolaan koleksi berbasis kebutuhan pengguna.

Roslina Maulida bersama tim membahas persepsi mahasiswa terhadap etika penggunaan Artificial Intelligence dalam pendidikan serta implementasi SKB 7 Menteri di lingkungan perguruan tinggi. Selanjutnya, Nirmala Kusumawatie dan tim memaparkan hasil analisis kepuasan pemustaka terhadap kualitas layanan Perpustakaan UIN Raden Fatah Palembang menggunakan metode LibQUAL+.

Prasetyo Adi Nugroho mengangkat tema dukungan pustakawan terhadap kegiatan riset akademik melalui pemanfaatan Scopus AI dengan pendekatan Model Iso-Ahola. Sementara itu, Maya Pradhipta Hapsari bersama tim meneliti faktor-faktor yang memengaruhi pilihan pemustaka antara sumber informasi cetak dan digital di UPA Perpustakaan Universitas Jember.

Kajian bibliometrik mengenai tren dan perkembangan penelitian literasi informasi di perguruan tinggi sepanjang periode 2010–2025 dipresentasikan oleh Isna Fistiyanti bersama tim. Adapun sesi terakhir kembali menampilkan Rohai Inah Indrakasih yang menyoroti pentingnya kompetensi digital forensik dalam membaca dan menavigasi informasi dokumen paten.

Dalam sesi diskusi dan review terhadap berbagai presentasi Call for Paper 2nd Annual Conference of APPTIS 2026, para reviewer memberikan sejumlah catatan akademik yang konstruktif untuk penguatan kualitas penelitian di bidang perpustakaan dan informasi. Untuk Ruang A, reviewer adalah Dr. Wiji Suwarno, S.PdI., S.IPI., M.Hum. (UIN Salatiga) dan Dr. Labibah Zain, M.LIS. (UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta), sedangkan untuk Ruang B reviewer terdiri atas Prof. Dr. Nurmawati, M.Pd. (IAIN Langsa Aceh) dan Dr. H. Kardi, S.Ag., S.S., M.Hum. (UIN Kiai Ageng Muhammad Besari Ponorogo).

Pertama, terkait aspek referensi ilmiah, reviewer menekankan pentingnya penggunaan literatur terbaru dalam kurun waktu lima tahun terakhir sebagai rujukan utama untuk memperkuat kebaruan (novelty) penelitian. Namun demikian, penggunaan buku babon atau karya klasik yang bersifat fundamental tetap diperkenankan sebagai landasan teori dasar dalam membangun kerangka konseptual penelitian.

Kedua, pada aspek metodologi penelitian, khususnya penelitian kuantitatif, reviewer mencatat bahwa beberapa studi masih menunjukkan adanya kecenderungan “rasa kualitatif”, yaitu ketika analisis kuantitatif belum sepenuhnya konsisten dengan pendekatan statistik yang ketat. Hal ini terlihat dari penggabungan interpretasi deskriptif yang terlalu luas atau belum sepenuhnya berbasis pada pengujian data kuantitatif secara sistematis.

Reviewer mendorong agar penelitian selanjutnya lebih menegaskan pemisahan pendekatan metodologis, sehingga penelitian kuantitatif benar-benar menggunakan analisis berbasis data numerik secara kuat, sementara pendekatan kualitatif tetap diperdalam pada aspek eksploratif dan interpretatif.

Secara keseluruhan, masukan ini diharapkan dapat menjadi penguat kualitas akademik seluruh presenter, sekaligus mendorong peningkatan mutu publikasi ilmiah pustakawan Indonesia di forum nasional maupun internasional.

Melalui forum ilmiah ini, APPTIS kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong kolaborasi, inovasi, dan pengembangan keilmuan perpustakaan di Indonesia. Berbagai hasil penelitian yang dipresentasikan diharapkan dapat menjadi referensi sekaligus inspirasi bagi pengembangan perpustakaan yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan era digital.

 

Scroll to Top