Sharing Session APPTIS 2026 Angkat Inovasi Library Assistant Berbasis AI di Uin Raden Mas Said Surakarta

Surakarta, 24 Juni 2026 – Selain menghadirkan workshop dan sesi Call for Paper, rangkaian kegiatan 2nd Annual Conference of APPTIS 2026 juga menyelenggarakan Sharing Session yang menjadi wadah berbagi praktik baik dan inovasi perpustakaan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada kesempatan ini, UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta mendapat kesempatan untuk membagikan pengalaman dan inovasi unggulannya berupa Library Assistant Berbasis Artificial Intelligence (AI) untuk Akses Literatur Akademik, sebuah inovasi yang berhasil meraih Juara 1 Academic Library Innovation Award (ALIA) 2025 yang diselenggarakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia (FPPTI) Wilayah Jawa Tengah.

Sesi sharing dipandu oleh pustakawan sekaligus sebagai  tim pengembang inovasi yang terdiri atas Triningsih, Lailia Muyasaroh, dan Joko Susilo. Ketiganya memaparkan proses lahirnya Library Assistant AI sebagai respons terhadap kebutuhan pengguna perpustakaan yang semakin mengandalkan teknologi digital dalam pencarian informasi akademik. Inovasi ini dikembangkan untuk membantu mahasiswa dan dosen memperoleh akses literatur secara lebih cepat, mudah, dan relevan sesuai kebutuhan pengguna.

Dalam pemaparannya, tim menjelaskan bahwa Library Assistant AI dirancang untuk meningkatkan efektivitas layanan perpustakaan melalui pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan yang mampu memahami konteks pertanyaan pengguna. Sistem ini dikembangkan untuk membantu penelusuran koleksi perpustakaan, akses tugas akhir, serta berbagai sumber informasi akademik yang tersedia di lingkungan UIN Raden Mas Said Surakarta.

Menurut tim pengembang, kehadiran Library Assistant AI merupakan bagian dari transformasi layanan perpustakaan yang menyesuaikan dengan budaya digital generasi saat ini. Inovasi tersebut diharapkan mampu menjembatani kebutuhan pengguna yang menginginkan layanan informasi yang cepat, mudah diakses, dan tetap akurat.

Sesi sharing berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta yang berasal dari berbagai perpustakaan perguruan tinggi di Indonesia. Dalam sesi tanya jawab, sejumlah peserta menanyakan berbagai aspek teknis terkait pengembangan Library Assistant AI, salah satunya mengenai infrastruktur dan biaya layanan yang digunakan. Tim UIN Raden Mas Said Surakarta menjelaskan bahwa Library Assistant AI memanfaatkan layanan kecerdasan buatan melalui server atau jalur khusus yang terhubung dengan teknologi ChatGPT untuk mendukung proses penelusuran informasi akademik. Penjelasan tersebut memunculkan ketertarikan peserta untuk mengetahui lebih lanjut mengenai skema langganan dan besaran biaya yang diperlukan dalam pengoperasian layanan AI tersebut. Pertanyaan ini menjadi salah satu topik diskusi yang paling banyak mendapat perhatian karena berkaitan dengan peluang implementasi inovasi serupa di perguruan tinggi masing-masing.

Selain itu, peserta juga tertarik pada penerapan kecerdasan buatan dalam repositori institusi. Mereka menanyakan bagaimana AI dapat diintegrasikan dengan repositori perpustakaan untuk membantu pengguna menemukan skripsi, tesis, disertasi, artikel ilmiah, maupun karya akademik lainnya secara lebih cepat dan sesuai dengan konteks kebutuhan informasi. Tim UIN Raden Mas Said Surakarta menjelaskan bahwa AI dapat dimanfaatkan untuk memahami maksud pertanyaan pengguna dan menghubungkannya dengan sumber informasi yang tersedia dalam repositori sehingga proses temu kembali informasi menjadi lebih efektif.

Topik lain yang menjadi perhatian peserta adalah tingkat keakuratan jawaban yang diberikan oleh sistem AI. Beberapa peserta menyoroti potensi terjadinya kesalahan informasi atau hallucination yang sering menjadi tantangan dalam penggunaan teknologi kecerdasan buatan. Menanggapi hal tersebut, tim pengembang menjelaskan bahwa Library Assistant AI dirancang untuk mengambil informasi dari sumber-sumber yang telah diverifikasi dan dikelola oleh perpustakaan. Dengan demikian, jawaban yang dihasilkan lebih terarah, relevan, dan dapat dipertanggungjawabkan. Meskipun demikian, pengguna tetap dianjurkan untuk melakukan verifikasi terhadap informasi yang diperoleh sesuai dengan prinsip akademik.

Diskusi juga berkembang pada peluang penerapan AI di berbagai layanan perpustakaan lainnya, seperti layanan referensi virtual, penelusuran koleksi, pendampingan penelitian, layanan literasi informasi, hingga pengembangan layanan berbasis kebutuhan pengguna. Para peserta sepakat bahwa pemanfaatan AI tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran pustakawan, melainkan sebagai alat bantu yang dapat meningkatkan kualitas layanan, mempercepat akses informasi, dan mendukung produktivitas kerja pustakawan.

Melalui sharing session ini, peserta memperoleh wawasan baru mengenai penerapan kecerdasan buatan dalam layanan perpustakaan sekaligus inspirasi untuk mengembangkan inovasi serupa di institusi masing-masing. Kegiatan ini menunjukkan bahwa perpustakaan perguruan tinggi terus bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi, sekaligus menegaskan komitmen APPTIS dalam mendorong kolaborasi dan diseminasi inovasi antarperpustakaan perguruan tinggi di Indonesia.

Scroll to Top