Seminar Internasional APPTIS : Bahas Transformasi Perpustakaan Akademik di Era AI dan Penguatan Riset PTKI

Seminar Internasional bertajuk “Global Knowledge Futures: Libraries, Culture, and Cross-Border Collaboration in the Age of AI” sukses diselenggarakan pada Selasa, 23 Juni 2026, pukul 10.30–13.15 WIB di Ruang Seminar Lantai 2 Gedung SBSN UIN Raden Mas Said Surakarta, Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Konferensi Ke-2 APPTIS ini menghadirkan dua narasumber dari Indonesia dan Malaysia yang membahas transformasi perpustakaan akademik dalam menghadapi perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) serta penguatan ekosistem riset di perguruan tinggi.

Narasumber pertama, Dr. Nur Kafid, M.Sc., selaku Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Agama RI, menekankan pentingnya eksistensi Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) yang berdampak melalui riset, pengabdian kepada masyarakat (PKM), dan publikasi ilmiah. Menurutnya, pustakawan memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam penelitian sehingga diperlukan regulasi yang memperluas tugas dan fungsi pustakawan, tidak hanya sebagai pengelola koleksi dan penyedia layanan informasi, tetapi juga sebagai peneliti yang aktif mendukung pengembangan ilmu pengetahuan.

Dalam paparannya, Dr. Nur Kafid juga menyampaikan bahwa Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (Diktis) telah mengembangkan layanan One Search untuk mendukung ekosistem riset dan mengurangi kesenjangan akses informasi di lingkungan PTKI. Inisiatif tersebut diharapkan dapat memperkuat kolaborasi penelitian, memperluas akses terhadap sumber ilmiah, serta meningkatkan kualitas publikasi akademik yang dihasilkan oleh sivitas akademika, termasuk pustakawan.

Sementara itu, narasumber kedua, Encik Hazmir Hj. Zainal, Kepala Perpustakaan Tun Seri Lanang Universiti Kebangsaan Malaysia, membawakan materi “Navigating the AI Era in Academic Libraries.” Ia menjelaskan bahwa perpustakaan modern telah berevolusi dari sekadar tempat penyimpanan koleksi menjadi pusat pengetahuan yang dinamis, inklusif, sekaligus ruang kolaborasi dan relaksasi bagi pengguna. Menurutnya, pemanfaatan AI dalam layanan perpustakaan bukan lagi sebuah pilihan, melainkan kebutuhan yang harus diimbangi dengan penguatan literasi AI, kefasihan digital, dan etika akademik.

Lebih lanjut, Hazmir memaparkan bahwa transformasi perpustakaan juga melahirkan peran profesional baru bagi pustakawan sebagai analis data dan pemimpin penelitian institusional. Untuk mewujudkan hal tersebut, perpustakaan perlu menyediakan pelatihan AI yang terstruktur, program kredensial mikro, serta melakukan peningkatan kompetensi sumber daya manusia guna menutup kesenjangan digital, mengatasi keterbatasan anggaran, dan memastikan interoperabilitas sistem. Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan transformasi perpustakaan sangat bergantung pada perubahan pola pikir para pemimpin, dukungan kebijakan pemerintah, dan keselarasan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Seminar yang dimoderatori oleh Dr. Labibah Zain, M.Lis., berlangsung secara efektif dan interaktif dengan antusiasme tinggi dari para peserta. Dalam penutupannya, moderator menyampaikan bahwa pengembangan perpustakaan perguruan tinggi di Malaysia telah didukung oleh blueprint yang menjadi pedoman strategis bagi setiap institusi. Meskipun sesi diskusi harus dibatasi karena keterbatasan waktu dan hanya mengakomodasi empat penanya, seminar ini berhasil memberikan wawasan baru mengenai pentingnya kolaborasi internasional, inovasi berbasis AI, dan penguatan peran pustakawan sebagai mitra strategis dalam riset dan pengembangan ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

Scroll to Top